Minggu, 09 Agustus 2015

butanisasi jagat

Butanisasi jagat
Tulisan ini hanya sekedar renungan secuil diri, terhadap proses diri dalam mendidik dan melatih diri pribadi (yang memiliki harapan kebahagiaan dan ketentraman yang hakiki) dan penulis sebagai hamba yang lemah, penuh kekurangan tempatnya salah dan dosa, namun berharap pengampunan dari-Nya.
Jagat yang membuta atau buta yang menjagat dan mendunia.
Kalau ada orang yang tersandung kerikil, siapa yang tersalahkan atau apa yang disalahkan. Dasar “kerikil” tidak punya mata, atau dasar kerikil tidak punya kaki. Seenaknya aja nongkrong di tengah jalan. Sambil orang yang tersandung ini memegangi kakinya yang berdarah, sambil marah-marah sendiri tidak tahu harus menyalahkan siapa –karena suka nyalah-nyalahkan orang. Orang ini tetap berjalan dengan tekenpenyangga tubuh, sebagai mata yang menuntun jalan dengan harapan dapat sampai tujuan. Dengan PD-nya terus kedepan dan tau-tau ada ‘grobyak’ bergulingan bersama pengendara yang lewat, yang ternyata nabrak dirinya, teken gutiknya patah, untung dia tidak terluka, kecuali tambah parah luka yang akibat tersandung kerikil tadi. “hai…. kalau jalan liat-liat jalan dong…jalan ditengah!!”, kata pengendara. “Kamu yang melihat, kalau berkendera lihat orang dong..saya sudah gunakan mata, bahkan sudah saya letakkan di jalan, apa kamu tidak liat, dasar buta..” ini yang salah yang buta atau yang berkendara yang dapat malihat, tapi mungkin pada sisi lain juga sama butanya.
Inilah idiom keadaan orang saat ini. Yang buta tidak mau tahu atas kebutaannya dan yang bisa melihat dengan sombongnya memperlihatkan  arogansi kebutaan visual juga verbalnya. Yang pertama buta secara harfiah, realitas. Yang kedua buta makna, buta mata hatinya. Sama-sama meraba-raba, walau berbeda yang diraba. Sama-sama buta, namun tidak sama dalam menyikapi dan merespon situasi dan kondisi.
Yang buta dengan yakinnya menilai, mengkoreksi, mengkritisi, menendang, melempar dengan keyakinnya –yang hanya dasar mbok menowo, (semoga tidak buntung). “saudara-saudara kalau kalian mau tau rasanya nikmatnya buah duren, kalian harus hati-hati, jangan pernah duduk dibawah pohon duren yang sedang berbuah, bisa kejatuhan, bisa penjol, bahkan bocor -wassalam tuh kepala. Karena buahnya berduri, kulitnya keras. Kalau kebanyakan ndak baik untuk kesehatan, paling tidak tentu tidak baik untuk kantong. Sebagai katalisator orang ini bla…bla… berorasi panjang lebar perhal penjelasan duren, gizinya, vitaminnya, kegunaannya, mudharat dan manfaatnya. Ustadz!!! Ada audience bertanya, apa ustadz sudah merasakan buah Duren yang katanya nikmat itu” ustadz kita ini tampak merah padam mukanya, hatinya seperti diberi kado api yang menyala, sambil memandang orang yang bertanya. Dengan suara di berat-beratkan dan dengan sikap diwibawa-wibawakan sambil menjawab hai…apa kamu tidak percaya kalau saya ini ahli baca, semua buku perihal duren telah tamat saya baca, dari pandang sudut mana saja telah habis saya baca bertahun-tahun saya mengkarantina diri, bahkan telah saya amalkan, (yaitu) “saya tidak pernah duduk dibawah duren –pohonnya saja tidak tau, apalagi rasanya!!   apa kamu tidak percaya??.
Yang bertanya diam sejuta bahasa, “ditanya pernah menyatakan rasanya duren dan jawaban yang diperlukan hanya pernah atau belum aja pakai argumentasi jalan propinsi dan jalan kereta api –tanpa  alasan semua kendaraan harus berhenti, kereta mau lewat. Semua yang “berbau” di-akademik-akademikan: konsep-skrip, factor, elemen, di hambur-hamburkan sehingga tampak mubadzir atau bahkan sia-sia, walau semoga tidak manjadi merugi (???). Bagaimana saya akan praktek “ka-annaka tarrahu” kalau tidak/belum pernah merasakannya”. Tapi penanya ini diam tidak berani mengungkapkan bunyinya hati, yang gronjal-gronjal ingin keluar, tapi apa daya. Besoknya, kemudian bersama-sama dengan teman-temannya dia menggerakkan masa mendemo dan demontrasi menggugat, bawa gutik, tongkat, batu, bata pembuka jalan untuk dapat merasakan nikmatnya makanan duren yang gratis kalau perlu yang romantis-duren (rokok makan gratis duit renes), sebab katanya indonesia ini tongkat, kayu pun jadi tanaman. Yang digugat kebakaran jenggot, gimana nih… wong pohonnya saja kita belum tau..boro-boro rasanya kok diminta memenuhi “nikmat”nya. Bagaimana se-akan-akan akan dapat dipenuhi kalau dibalik bagaimananya juga meraba-raba….oh…jagat....jagat gung binatara.
Para wali telah mendahului kita dengan (yang saat ini kita sebut sebagai budaya) wayang, dengan menciptakan wayang buto, senang dan tidak senang tetap saja mulutnya “mangap” “dibanting oleh dalang sekalipun tetap mangap, mungkinkah ini sesungguhnya menggambarkan keserakahan nafsu dunia manusia, sehingga tidak terbuka hatinya –rasa hatinya, dari melihat kebenaran Dzat, Yang Al-Haq, Yang Ghaybullah, Wajib WujudNya, Allah NamaNya. Bukankah kehidupan ini sesungguhnya tempat media untuk kembali dengan selamat menemui Dia Yang Al-Ghayb tersebut (Al-Ghayb sangat berbeda dengan alGhuyub, Al-Ghayb Hanya Diri Dzat Tuhan, sedang al-Ghyuyub adalah sesuatu yang sama-sama tidak keliatan mata tapi bukan tuhan seperti, Malaikat, surga, neraka, jin, demit, syetan, gendruwu)
Kita melihat bersama dalam sejarah umat manusia, apalagi saat bersentuhan dengan dunia kekeuasaan penuh dengan intrik-intrik dan trik-trik, strategi “mbuta”. Dengan kata lain di stigmakan, dipolitisasi, mempolitisasi diri
“innaha laa takmal absharu walakin takma quluubullati fishshuduri” sesungguhnya (untuk mengenali, mensaksikan Keberadaan Diri Dzatullah) bukan mata yang buta, tapi yang buta (dari al-HaqNya) adalah hati yang berada didalam dada”

Oh.....jagat...jagat yang membutakan jagat manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar