Butanisasi jagat
Tulisan ini hanya sekedar renungan secuil diri, terhadap proses diri dalam
mendidik dan melatih diri pribadi (yang memiliki harapan kebahagiaan dan
ketentraman yang hakiki) dan penulis sebagai hamba yang lemah, penuh kekurangan
tempatnya salah dan dosa, namun berharap pengampunan dari-Nya.
Jagat yang membuta atau buta yang menjagat dan mendunia.
Kalau ada
orang yang tersandung kerikil, siapa yang tersalahkan atau apa yang disalahkan.
Dasar “kerikil” tidak punya mata, atau dasar kerikil tidak punya kaki.
Seenaknya aja nongkrong di tengah jalan. Sambil orang yang tersandung ini
memegangi kakinya yang berdarah, sambil marah-marah sendiri tidak tahu harus
menyalahkan siapa –karena suka nyalah-nyalahkan orang. Orang ini tetap berjalan
dengan “teken” –penyangga tubuh, sebagai mata yang menuntun jalan dengan harapan dapat sampai
tujuan. Dengan PD-nya terus kedepan dan tau-tau ada ‘grobyak’ bergulingan
bersama pengendara yang lewat, yang ternyata nabrak dirinya, teken gutiknya
patah, untung dia tidak terluka, kecuali tambah parah luka yang akibat
tersandung kerikil tadi. “hai…. kalau jalan liat-liat jalan dong…jalan
ditengah!!”, kata pengendara. “Kamu yang melihat, kalau berkendera lihat orang
dong..saya sudah gunakan mata, bahkan sudah saya letakkan di jalan, apa kamu
tidak liat, dasar buta..” ini yang salah yang buta atau yang berkendara yang
dapat malihat, tapi mungkin pada sisi lain juga sama butanya.
Inilah
idiom keadaan orang saat ini. Yang buta tidak mau tahu atas kebutaannya dan
yang bisa melihat dengan sombongnya memperlihatkan arogansi kebutaan visual juga verbalnya. Yang pertama buta secara harfiah, realitas. Yang
kedua buta makna, buta mata hatinya. Sama-sama meraba-raba, walau berbeda yang
diraba. Sama-sama buta, namun tidak sama dalam menyikapi dan merespon situasi
dan kondisi.
Yang buta
dengan yakinnya menilai, mengkoreksi, mengkritisi, menendang, melempar dengan
keyakinnya –yang hanya dasar mbok menowo, (semoga tidak buntung).
“saudara-saudara kalau kalian mau tau rasanya nikmatnya buah duren ,
kalian harus hati-hati, jangan pernah duduk dibawah pohon duren yang sedang berbuah, bisa kejatuhan,
bisa penjol, bahkan bocor -wassalam tuh kepala. Karena buahnya berduri,
kulitnya keras. Kalau kebanyakan ndak baik untuk kesehatan, paling tidak tentu tidak baik untuk
kantong. Sebagai katalisator orang ini bla…bla… berorasi panjang lebar perhal
penjelasan duren, gizinya,
vitaminnya, kegunaannya, mudharat dan manfaatnya.
Ustadz!!! Ada audience bertanya, apa ustadz sudah merasakan buah Duren yang katanya nikmat
itu” ustadz kita ini tampak merah padam mukanya, hatinya seperti diberi kado
api yang menyala, sambil memandang orang yang bertanya. Dengan suara di
berat-beratkan dan dengan sikap diwibawa-wibawakan sambil menjawab hai…apa kamu
tidak percaya kalau saya ini ahli baca, semua buku perihal duren telah tamat
saya baca, dari pandang sudut mana saja telah habis saya baca bertahun-tahun
saya mengkarantina diri, bahkan telah saya amalkan, (yaitu) “saya tidak pernah
duduk dibawah duren –pohonnya saja tidak tau, apalagi rasanya!!
apa kamu tidak percaya??.
Yang
bertanya diam sejuta bahasa, “ditanya pernah menyatakan rasanya duren dan jawaban yang
diperlukan hanya pernah atau belum aja pakai argumentasi jalan propinsi dan
jalan kereta api –tanpa alasan semua
kendaraan harus berhenti, kereta mau lewat. Semua yang “berbau”
di-akademik-akademikan: konsep-skrip, factor, elemen, di hambur-hamburkan
sehingga tampak mubadzir atau bahkan sia-sia, walau semoga tidak manjadi merugi
(???). Bagaimana saya akan praktek “ka-annaka tarrahu” kalau tidak/belum pernah
merasakannya”. Tapi penanya ini diam tidak berani mengungkapkan bunyinya hati,
yang gronjal-gronjal ingin keluar, tapi apa daya. Besoknya, kemudian
bersama-sama dengan teman-temannya dia menggerakkan masa mendemo dan demontrasi
menggugat, bawa gutik, tongkat, batu,
bata pembuka jalan untuk dapat merasakan nikmatnya
makanan duren yang gratis kalau perlu yang romantis-duren (rokok makan gratis
duit renes), sebab katanya indonesia
ini tongkat, kayu pun jadi tanaman. Yang digugat
kebakaran jenggot, gimana nih… wong pohonnya saja kita belum tau..boro-boro
rasanya kok diminta memenuhi “nikmat”nya. Bagaimana “se-akan-akan” akan dapat dipenuhi
kalau dibalik bagaimananya juga meraba-raba….oh…jagat....jagat gung binatara.
Para wali telah mendahului kita dengan (yang saat ini kita sebut sebagai
budaya) wayang, dengan menciptakan wayang buto, senang dan tidak senang tetap
saja mulutnya “mangap” “dibanting” oleh dalang sekalipun tetap mangap,
mungkinkah ini sesungguhnya menggambarkan keserakahan nafsu dunia manusia,
sehingga tidak terbuka hatinya –rasa hatinya, dari melihat kebenaran Dzat, Yang
Al-Haq, Yang Ghaybullah, Wajib WujudNya, Allah NamaNya. Bukankah kehidupan ini
sesungguhnya tempat media untuk kembali dengan selamat menemui Dia Yang
Al-Ghayb tersebut (Al-Ghayb sangat berbeda dengan alGhuyub, Al-Ghayb Hanya Diri
Dzat Tuhan, sedang al-Ghyuyub adalah sesuatu yang sama-sama tidak keliatan mata
tapi bukan tuhan seperti, Malaikat, surga, neraka, jin, demit, syetan, gendruwu)
Kita melihat bersama dalam sejarah umat manusia, apalagi saat bersentuhan
dengan dunia kekeuasaan penuh dengan intrik-intrik dan trik-trik, strategi
“mbuta”. Dengan kata lain di stigmakan, dipolitisasi, mempolitisasi diri
“innaha
laa takmal absharu walakin takma quluubullati fishshuduri” sesungguhnya (untuk mengenali, mensaksikan
Keberadaan Diri Dzatullah) bukan mata yang buta, tapi yang buta (dari
al-HaqNya) adalah hati yang berada didalam dada”
Oh.....jagat...jagat yang membutakan jagat manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar